Agar Wanita Tak Alami Anemia & Lahirkan Bayi Prematur


  • Agar Wanita Tak Alami Anemia & Lahirkan Bayi Prematur
    suasana seminar gizi di Kemenkes, (Foto: istimewa)

    Nutrition International, organisasi global yang berdedikasi memberikan bantuan gizi bagi yang membutuhkan, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyelenggarakan Seminar Kesehatan dan Gizi Remaja pada 15 Mei 2018 di Jakarta. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran mengenai gizi bagi remaja putri di Indonesia.


    Bertema ‘Pendidikan Kesehatan & Gizi: Sebuah Kampanye untuk Meraih Generasi Tinggi, Cerdas dan Berprestasi’, isi seminar menyoroti program Right Start dan MITRA Youth dari Nutrition International yang didukung Pemerintah Kanada dan Australia. Harapan ke depan, agar para remaja putri bisa melindungi dirinya dari risiko anemia dan meningkatkan gizi mereka.




    Pada seminar yang dihadiri 250 peserta, mereka mendapatkan berbagai informasi. Mulai dari penyebab anemia pada remaja, manfaat suplementasi zat besi dan asam folat, gaya hidup sehat serta gizi seimbang agar bisa tumbuh dengan lebih baik.


    “Gizi merupakan sebuah prioritas pembangunan bagi Kanada, dan elemen penting dalam komitmen skala internasional. Kami untuk mendukung kesehatan ibu, bayi yang baru lahir dan anak, serta mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan oleh PBB di tahun 2030. Kemitraan efektif seperti ini mampu menghapus tingkat kematian yang dapat dicegah di kalangan perempuan, anak dan bayi yang baru lahir, hingga mengatasi dampak malnutrisi antar generasi di Indonesia,” kata Peter MacArthur, Duta Besar Kanada untuk Indonesia pada kesempatan tersebut, di Kementerian Kesehatan, Jakarta. 


    Inisiatif Right Start, dengan investasi senilai CAN $1,5 juta (setara dengan Rp 16,5 milyar) dari Pemerintah Kanada, akan menjangkau wanita usia subur dan remaja putri. Nantinya bantuan akan dibuat program untuk mengurangi anemia, komplikasi dan kematian selama periode kehamilan dan persalinan pada ibu. Kemudian,kerusakan tabung saraf seperti spina bifida – kelainan tulang belakang dan sumsum tulang belakang pada bayi baru lahir.


    “Berinvestasi dalam hal gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan anak dan masa remaja seorang remaja putri sangat penting. Karena efek gizi yang buruk selama periode ini dapat berpengaruh seumur hidup,” kata Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Allaster Cox.


    “Dengan keterlibatan ini, Australia dengan bangga memberikan dukungannya bagi Nutrition International dan Pemerintah Indonesia dalam upaya mengatasi tantangan gizi.” 


    Adapun pemerintah Australia telah menginvestasikan dana sebesar $AUS 2,1 juta (setara dengan Rp 22,1 milyar) melalui proyek MITRA Youth. Di mana akan memberikan manfaat bagi para remaja putri di 1.913 sekolah di 20 kabupaten. 


    Right Start dan MITRA Youth akan menjangkau sekitar 2,95 juta siswi remaja putri di 45 kabupaten di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.


    Nutrition International berterima kasih kepada pemerintah Indonesia, atas kepemimpinan mereka dalam menangani masalah kesehatan dan gizi untuk remaja putri. Kami bangga dapat menjadi bagian dari kemitraan unik ini. Di mana pemerintah Kanada dan Australia bekerja sama dengan kami dalam memaksimalkan dan memanfaatkan sumber daya, guna mengatasi masalah kesehatan masyarakat dan bisa mencegah para remaja meraih potensi tertinggi mereka.


    Dengan bekerja sama dan belajar satu sama lain, kami dapat menjangkau lebih banyak perempuan dan remaja putri dengan gizi dan kesehatan yang lebih baik,” kata Direktur Regional Asia Nutrition International Andrew O’Connell.


    Kekurangan gizi pada remaja putri dan wanita usia subur di Indonesia merupakan masalah yang signifikan. Setidaknya sepertiga remaja perempuan di Indonesia menderita anemia yang kemudian diperparah melalui pernikahan dini dan gizi yang tidak memadai. Anemia di kalangan perempuan dan remaja putri merupakan sebuah tantangan kesehatan masyarakat saat ini.


    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa satu dari 10 remaja perempuan yang mengandung akan menghadapi risiko komplikasi, tingkat kelahiran bayi dengan berat rendah (prematur) dan anemia yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below