Kunci Hubungan Langgeng: Jaga Ekspektasi (IV)


  • Kunci Hubungan Langgeng: Jaga Ekspektasi (IV)
    (Foto: Freepik)

    TAK sedikit pertengakaran di rumah tangga terjadi karena salah satu individu tidak bisa mengelola ekspektasi. Topik ini sering terjadi saat pihak suami memberi janji tapi tak pernah terwujud, katakanlah janji akan membelikan sesuatu. Hal ini bila tak segera dikelola bisa membuat masalahyang lebih besar di rumah tangga, dan bahkan mengancam pernikahan.


    Menurut psikolog Ajeng Raviando, M.Psi,  zaman sekarang tantangan yang suka memunculkan konflik dari topik ekspektasi ialah  sosial media. Karena media sosial suka menunjukan foto-foto pasangan lain yang hidupnya lebih baik dari pada kita. Padahal, apa yang diunggah di sosial media seseorang, umpama instagram, hanya citra positif saja. Bukan benar-benar kehidupan nyata mereka secara utuh.


    “Kita suka banget tuh melihat pasangan lain di sosial media, terus kita lihat pasangan lain ‘kok dia asik banget dan rukun ya hidupnya ’. Dari situ muncullah rasa iri, pengen seperti mereka. Sampai akhirnya masuk ke pemikiran yang salah, yaitu ‘kok pasangan kita gak seperti itu’. Efeknya kita jadi kepikiran, lalu cemas, padahal tadinya tidak apa-apa,” kata Ajeng dalam bincang-bincang Istri Resik, Pernikahan Harmonis yang diselenggarakan hari ini oleh Resik V Godokan Sirih di Seribu Rasa Lotte Avenue, Jakarta, 7 Mei 2018.


    Solusi dari kondisi itu, bisa dengan meningkatkan waktu berkualitas berdua. Di mana meletakkan ponsel saat berdua dan menikmati momen. Dengan pasangan menikmati momen, rasa bahagia akan muncul dalam diri kita. Sehingga, saat dia sudah merasa bahagia, akan mudah meredam pengaruh negatif dari sosial media.


    “Coba kalau kamu minim waktu berkualitas dan sering pegang gadget, bahkan di ruang kasur, bagaimana mau bermesra-mesraan atau hubungan intim? Semua sibuk dengan urusan masing-masing," kata Ajeng.


    Untuk itu, usahakan sampai karena urusan kantor atau urusan domestik membuat pembicaraan tentang rasa jadi terlupakan. Itu karena membicarakan dua hal itu tidak akan ada habisnya. Jadi, kalau semua sudah sampai di rumah, biasakan hati dan pikiran hadir utuh untuk pasangan.