Kunci Hubungan Langgeng: Selalu Sabar (III)


  • Kunci Hubungan Langgeng: Selalu Sabar (III)
    ilustrasi pasangan yang selalu sabar hingga membuat hubungannya langgeng, (Foto: freepik)

    PERNIKAHAN bukanlah film yang selalu berakhir happy ending. Pernikahan itu penuh lika-liku yang siapa yang tahu kuncinya, dia bakal sukses melewatinya – sampai akhirnya mencapai tujuan: menua bersama, menimang cucu bersama, sampai mau memisahkan di akhir usia. 


    Dan alah satu kunci untuk bisa mencapai itu ialah selalu sabar. Mungkin ini klise, tapi faktanya memang demikian, ladies.  Psikolog Ajeng Raviando, M.Psi, menerangkan, menjalani biduk rumah tangga tak selalu berjalan lancar atau bahagia. Pasti ada cobaan dan masalah di dalamnya. Untuk bisa melewati itu, kuncinya ialah sabar. 


    “Kalau kamu belum merasakannnya, mungkin karena masih di awal pernikahan. Karena, awal-awal pernikahan tuh happy banget, apalagi masa-masa bulan madu. Tapi, hitungan ‘madunya’ tuh bulanan. Kalau sudah lewat setahun, baru deh tuh kelihatan aslinya pasangan kita kayak apa,” papar Ajeng


    Lantas, kalau kita tidak pakai kerja keras, tidak sabar, bisa nggak sih pernikahan langgeng? 


    “Nggaklah ya. Pernikahan itu godaannya banyak. Di kantor lihat yang lebih kinclong daripada yang di rumah. Apalagi, kalau istri kurang perhatian karena sudah punya anak dan tidak itu bisa ditawar-tawar lagi – semua perhatian tertuju ke anak. Lalu istri menuntut suami untuk mengerti bahwa urusan anak adalah nomer satu, itu bahaya loh,” kata Ajeng dalam bincang-bincang Istri Resik, Pernikahan Harmonis yang diselenggarakan hari ini oleh Resik V Godokan Sirih di Seribu Rasa Lotte Avenue, Jakarta, 7 Mei 2018


    Tersebab, lelaki lebih senang dikasih ‘egonya’, seperti diberi perhatian, ada quality time berdua meski sudah punya atau diberi ruang untuk dia bisa memimpin keluarga. Oleh karenanya, kita harus melakukan semua itu meski secara peran di keluarga punya jasa 'besar'.


    “Bila pada generasi baby boomer (kelahiran 1940-1960) peran istri murni urusan domestik, di era generasi X (1960-1980), sebagian istri di rumah dan sebagian lainnya bekerja, sedangkan Istri generasi Y (1980-2000) mayoritas bekerja, baik dari rumah ataupun kantoran. Nah karakter generasi Y ini ingin bisa melakukan semua: bekerja, bersenang-senang, bersosialisasi, dan mengasuh anak dalam satu waktu,” paparnya


    Ditambah, gadget juga penting banget buat mereka. Sehingga banyak yang merasa kita boleh memegang gadget, termasuk ada suami di depan kita. Banyak loh yang kaya gini, bahkan di atas tidur. Mereka berani melakukan phubbing ( tindakan tak melakukan percakapan face to face dengan lawan bicara) tapi lebih sibuk dengan gadget. 


    Mungkin secara kasat mata itu tidak masalah, tapi efek secara psikologis bagi pasangan sangat besar. Dan hal itu bisa mengurangi kemesraan dan keharmonisan dengan pasangan. Karena aktivitas “asyik sendiri” akan membuat keintiman pasangan menurun. Sedangkan kunci hubungan bisa langgeng sampai tua ialah keintiman.


    “Jadi, kalau memang sudah ada suami di samping kamu. Usahakan letakkan ponsel. Enjoy the moment. Bangun quality time berdua agar ada rasa hangat di dalam dada kamu berdua. Agar saat ada masalah datang – apapun itu, rasa cinta yang besar akan selalu jadi prioritas pertama dan pernikahan selalu diselamatkan,” pungkas Ajeng.