Kunci Hubungan Langgeng: Jaga Komunikasi (I)


  • Kunci Hubungan Langgeng: Jaga Komunikasi (I)
    ilustrasi pernikahan harmonis dan langgeng, (Foto: Freepik)

    DISADARI atau tidak, peran istri di zaman sekarang bertambah banyak dibandingkan zaman dulu. Itu karena terjadi pergeseran peran istri dibanding zaman dulu. Saat ini, istri harus bisa multitasking dan harus serba bisa. Mulai dari cari uang, mengasuh anak, dan menyenangkan suami. 


    Kadang hal itu bikin prioritas istri bingung; mana dulu yang harus dikerjakan. Biasanya, kalau sudah punya anak, prioritasnya buat anak. Lantas, suami nomor berapa?


    “Ah, kan bisa komunikasi dengan gadget yang bisa mendekatkan”


    Tapi, apa iya benar? 


    Menurut psikolog Ajeng Raviando, M.Psi, para istri harus tetap memprioritaskan suami meski punya aktivitas padat. Memenuhi kebutuhan utama dia, seperti memberi perhatian, menyiapkan makan, atau baju kantor.


    Memang, dahulu istri hanya di rumah dan sekarang cenderung bekerja untuk membantu kehidupan keluarga. Tapi, bukan berarti itu menjadi pemakluman untuk tidak memprioritaskan suami – tidak memberi perhatian.


    “Tantangan utama pasutri zaman now itu, komunikasi. Mengapa? Karena, beda banget pasutri dulu dan sekarang. Kalau dulu, suami cari uang, istri itu di rumah. Semua urusan 'domestik', istri yang tanggung jawab. Tapi sekarang, diluar itu ada lagi: sosialisasi, kerjaan, mengurus banyak hal.


    Tetapi, setelah apa yang kita jalani akhirnya kita masih punya waktu untuk pasangan kita?,” terang Ajeng dalam bincang-bincang Istri Resik, Pernikahan Harmonis yang diselenggarakan hari ini oleh Resik V Godokan Sirih di Seribu Rasa Lotte Avenue, Jakarta, 7 Mei 2018


    Keinginan kita, pasti ingin jadi pasangan yang sehat hubungannya, bahagia, dan punya makna dalam kehidupan berkeluarga. Bahkan kalau bisa sampai akhir hayat – sampai usia memisahkan. Tapi, itu idealnya, mimpinya begitu. Namun demikian, faktanya pernikahan tidak sesederhana di dongeng.


    Kalau di film itu happily ever after, semua kejadian ditutup dengan menikah. Itu makanya banyak anak muda cita-citanya ingin menikah. “Padahal pernikahan tidak seperti di dongeng, dan nggak cukup hanya dengan cinta, kita harus punya fondasi di pernikahan,” papar Ajeng.


    Kalaupun punya cinta sama pasangan, cinta yang kayak gimana? Melindungi, mengukung, berkembang atau membebaskan? Ini harus dipikirkan, kata Ajeng. Karena banyak dari kita mengalokasikan cinta terkadang tidak seperti seharusnya cinta sejati. Yakni, tidak memupuk rasa cintanya.


    Menanggapi hal itu, aktris cantik Soraya Larasati juga mengamini hal itu. Bahwasanya menjaga kelanggengang hubungan harus bisa menjaga komunikasi. 


    "saya sudah menikah selam 6 tahun. Dan memang benar. Setelah menjalani pernikahan ternyata tidak seindah yang dilihat di film-film. Ketemu orang, terus dekat dan ngerasa nyaman, lalu bahagia setelah menikah.


    Menikah itu saya mikirnya sama seperti kita mau berbisnis atau berpartner. Bukannya mau hitung-hitungan sama suami, tapi lebih ke jadi mitra dalam ibadah. Namanya ibadah kan banyak hasutan. Nah, nikah itu persis kaya shalat, nikah juga harus khusyuk," kata Soraya.


    Dan menjaga pernikahan itu bukan hanya harus melayani suami. Banyak faktornya. Bukan cuma sekadar menyediakan minum dan lain-lain. Laki-laki tuh caper (Red: cari perhatian), daripada dia caper di luar, kita harus memberi perhatian. Misalnya, suami potong rambut, kita harus tahu.


    "Laki tuh harus dinaikkan egonya. Misalnya, kalau dia pake baju hitam, kita bilang kece. Hal-hal kecil kayak gitu  harus sering dikasih. Mejaga supaya kita seru terus kayak zaman-zaman pacaran. Dulu sampai sejam sekali nanya sudah makan apa belum. Perhatian kecil kaya gitu harus dijaga, kalau mau langgeng.


    Awal-awal aku merasa hal kayak gitu sepele. Tapi ini penting kok setelah ngobrol sama teman-teman. Karena kalau kita mau terus seru kaya pacaran, beri apresiasi dan perhatian. Itu karena kemesraan kan bisa dibentuk," pungkasnya.