5 Tipe Perempuan Dalam Hubungan



  • Kalimat klise yang sering diucapkan sebagai alasan putus hubungan ("Baby, it's not you, it's me...") justru ada benarnya. Jika biasanya kalimat itu diucapkan untuk mengatakan hal sebaliknya - dalam hal ini, pasangan yang salah, bukan Anda - maka kali ini kata-kata itu bisa dijadikan bahan introspeksi diri. Apa yang terjadi? Mengapa sikap si dia "tiba-tiba" berubah tanpa ada tanda-tanda yang jelas? Apa sebenarnya kesalahan Anda?

    Apa pun skenarionya, bisa dipastikan hasil akhirnya hanya satu, yaitu toxic relationship. Boro-boro saling menyayangi, bahkan saling menyukai pun tidak. Sebelum hal tu terjadi, selamatkan hubungan Anda. Break that cycle now!

     

    Si Tukang Atur

    Semisal: Margaret Tate (The Proposal)

    Awalnya, mungkin pasangan akan merasa tersanjung atas segala perhatian yang didapatkannya dari tipe perempuan ini. Tapi lama-lama ia akan merasa jengah jika perhatian ini diberikan dalam bentuk yang tak hanya terkesan clingy tapi juga menggurui.

    Solusi: Pada dasarnya, perempuan memang mudah khawatir terhadap keadaan pasangannya, sehingga wajar bila kemudian perasaan tersebut diekspresikan melalui keinginan untuk "sekadar mengingatkan". Namun bila dilakukan secara berlebihan, bisa jadi nanti Anda dilabeli sebagai control freak. Relaks sedikit dan atur kembali nada bicara Anda saat berusaha mengingatkannya untuk melakukan sesuatu.

    Si Gadis dalam Kesulitan

    Semisal: Bella Swan (Twilight)

    Si perempuan ingin agar sang pangeran selalu ada setiap kali terjadi krisis (baik kecil maupun besar) dalam hidupnya, sementara ego si laki-laki pun semakin terpuaskan saat tahu bahwa keinginannya untuk dipandang sebagai pahlawan didapatkan dengan mudah dalam hubungan dengan Gadis dalam Kesulitan.

    Solusi: Menurut Mary C. Lamia, PhD dan Marilyn J. Krieger, PhD di Psychology Today, masalahnya ada pada diri Anda sendiri, bukan pasangan. Fungsi sang pangeran di sini hanya sebagai pengalih perhatian dari masalah sebenarnya. Berhenti bergantung pada pasangan untuk hal sepele, apalagi yang bisa dikerjakan sendiri.

    Si Pembenci Laki-Laki

    Semisal: Kat Stratford (10 Things I Hate About You)

    Baik saat lajang maupun berpasangan, tipe perempuan yang satu ini selalu menemukan kesalahan pada diri lelaki. Seringkali sikap ini disalahartikan sebagai feminist atau pejuang hak-hak perempuan. Hanya saja, perasaan tidak suka yang dimiliki seorang pembenci lelaki jauh lebih intens daripada seorang feminist. Saat seorang laki-laki percaya diri, berarti ia angkuh. Saat lelaki itu berusaha bercanda, berarti ia norak.

    Solusi: Inti permasalahannya sudah jelas: seorang lelaki telah menyakiti hati Anda. Tapi tak berarti semua laki-laki sama, dan jelas siapa pun yang menyakiti Anda sebelumnya tidak merepresentasikan kaum Adam. Dr. Gabrielle Morrissey, sex and relationship expert, mengonfirmasi hal ini: "Pikiran 'semua laki-laki jahat' harus diganti dengan keyakinan bahwa masih banyak lelaki baik yang bisa membuktikan diri kepada Anda."

    Si Perempuan Perkasa

    Semisal: Wonder Woman (Wonder Woman)

    Perempuan Perkasa (atau Alpha Female) merasa bisa melakukan semuanya seorang diri dan cenderung menolak bantuan dari siapa pun, terlebih laki-laki. Mandiri dan percaya diri, ia justru akan merasa tersinggung jika orang menawarkan bantuan, karena menurutnya hal itu membuatnya tampak lemah. Perempuan Perkasa juga seorang multitasker yang andal, di mana ia mampu menyelesaikan beberapa hal sekaligus dengan cekatan.

    Solusi: Menurut Dr. Sonya Rhodes, penulis buku The Alpha Woman Meets Her Match, solusinya adalah agar sang Alpha Female memilih seorang Beta Male, yaitu laki-laki yang tidak merasa terancam oleh kehadiran Alpha Female. Jika Anda termasuk tipe ini, maka sesungguhnya pasangan kagum dengan kemandirian Anda dan senang jika Anda punya kesibukan sendiri.

    Si Terlalu Banyak Pikiran

    Semisal: Bridget Jones (Bridget Jones' Diary)

    Salah satu bentuk insecurity yang dimiliki kebanyakan perempuan: terlalu banyak berpikir hingga tanpa sadar, berujung pada akhir sebuah hubungan karena mempengaruhi pasangan dengan segala "serangan" yang dilakukannya. Contoh: "Kita sudah pacaran sebulan, kenapa ia belum juga mengenalkan saya pada orangtuanya?" atau "Tadi dia bilang si Sandra dari bagian Keuangan kelihatannya baik. Maksudnya apa?"

    Solusi: Susan Nolen-Hoeksma, penulis buku Women Who Think Too Much, menyatakan, "Perilaku overthinking menganggu kemampuan Anda untuk memecahkan masalah dengan baik." Jika terus begini, Anda juga membuat laki-laki tampak lebih rumit dari seharusnya. Cukup buka lebar-lebar telinga dan pikiran, dengarkan apa yang ia katakan. Tidak ada "misteri" atau "skenario" di balik kata-kata yang ia ucapkan kepada Anda.

     

    (TEKS: ANGGITA DWINDA / FOTO: BERBAGAI SUMBER)

  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Bunga Citra Lestari Maret 2021
    Grab it Now!



 

Related Articles