Hidden Sex Questions



  • "Saya telah menikah selama lima tahun dan sexually active. Pertanyaannya, mengapa setiap kali melakukan intercourse vagina saya masih sering merasa sakit, meskipun saya sudah terangsang dan cairang pelumas sudah keluar?"

    DR. FRIZAR SAYS: Pada perempuan yang pernah melahirkan secara normal, nyeri pada saat melakukan intercourse biasanya terjadi karena adanya jahitan bekas melahirkan. Sementara bagi yang melahirkan secara caesar, seharusnya rasa sakit sewaktu intercourse tidak terjadi. Pada umumnya, sakit pada saat berhubungan seksual terjadi karena posisi seks yang salah. Jika Anda terbiasa melakukan seks dengan posisi misionaris, cobalah untuk melakukannya dengan cara doggie style. Kadang-kadang dengan melakukan perubahan posisi, penis tidak akan melakukan kontak langsung dengan vagina bagian atas, sehingga rasa sakit dapat dikurangi. Rasa sakit ini juga bisa terjadi karena salah satu pasangan berbadan gemuk sehingga ada gangguan penetrasi, di mana penis menekan daerah sekitar vulva, sehingga hubungan seks jadi terasa tidak nyaman. Jadi, solusi pertama adalah mengganti posisi bercinta sampai sang perempuan tidak lagi merasa sakit. Jika mengganti posisi bercinta sudah dilakukan tapi masih tetap merasa sakit, maka harus periksa ke dokter, karena bisa jadi ada sesuatu di daerah klitoris atau uretra (saluran kencing). Mungkin saja ada infeksi atau ada penonjolan di daerah tersebut sehingga penis membenturnya. Dalam kondisi seperti itu, yang bisa mengobati hanyalah dokter.

     

    "Mengapa saat melakukan intercourse saya sering merasa ingin buang air kecil?"

    DR. FRIZAR SAYS: Bisa jadi hal ini disebabkan rangsangan penis terhadap muara saluran kencing. Biasanya hal ini dialami pengantin baru yang melakukan hubungan seks dalam frekuensi lebih sering, sehingga muara saluran kencing sering terangsang dan menimbulkan anyang-anyangan. Jika benar-benar terasa menganggu, ganti posisi bercinta Anda, agar penis tidak lagi menyentuh muara saluran kencing. Atau melakukan pemeriksaan di dokter, karena siapa tahu proses melahirkan yang sudah berulang kali terjadi menyebabkan muara saluran kencing turun sehingga menonjol.

     

    "Boleh atau tidak untuk melakukan hubungan seks di akhir masa menstruasi, di kala darah yang keluar hanya berupa noda-noda cokelat?"

    DR. FRIZAR SAYS: Sebaiknya jangan; lakukan hubungan seks hanya pada saat darah menstruasi sudah tidak keluar lagi. Kenapa? Karena darah adalah sumber media terbaik untuk penyebaran kuman. Melakukan hubungan seks pada saat darah menstruasi masih keluar sama saja dengan memindahkan kuman ke dalam tubuh. Alasan kedua mengapa berhubungan seks pada saat haid tidak diperbolehkan adalah karena dapat menimbulkan emboli. Emboli adalah masuknya "sesuatu" yang bisa berupa darah, udara, atau apa pun ke dalam alirah darah; hal ini dapat menimbulkan kematian, terutama jika masuk ke jantung atau otak.

     

    "Mengapa saya lebih mudah mencapai orgasme melalui masturbasi dan bukannya intercourse?"

    DR. FRIZAR SAYS: Kesalahan pertama ada di mindset seseorang. Mengapa harus beranggapan bahwa masturbasi lebih mudah menghasilkan orgasme dibandingkan intercourse? Kedua, mungkin karena suaminya termasuk orang yang terburu-buru dalam melakukan hubungan seks, jadi intercourse sudah berakhir sebelum sang istri mendapatkan orgasme. Dalam hal ini, kuncinya adalah komunikasi yang baik. Istri harus menjelaskan pada suami bahwa ia ingin "disentuh di bagian sini" untuk mendapatkan kenikmatan. Masalahnya, orang Indonesia merasa tabu untuk membicarakan hal-hal semacam ini. Sementara pada saat masturbasi, ia tahu mana yang harus disentuh agar bisa mencapai orgasme. Mungkin memang membutuhkan pihak ketiga yang bisa menjembatani komunikasi seputar hubungan seks antara suami dan istri.

     

    (TEKS: CINDY EGIFANIA / FOTO: BERBAGAI SUMBER)

  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Velove Vexia Cover April 2022
    Grab it Now!



 

Related Articles